0 users liked this, Sign In to like this
0
Sign In to save it to your Collection
0
Sign In to leave comment
7
Views

Ahmed Fauzy Hawi's image

2016-12-19T03:34:16.151Z
Masa lalu laksana sepasang sandal yang mememani kita berjalan, ia tidak ubahnya pijakan yang senantiasa menemani, kala kita berjalan santai maupun berlari. Namun saat ia terputus talinya, secara otomatis kita akan membeli atau memperbaiki. Jika kita memutuskan untuk memperbaikinya maka kita juga harus siap membiarkan tali itu diganti dan jika kita memutuskan untuk mengganti keseluruhan maka kita harus siap-siap merelakan dengan lapang sembari dilempar tidak karuan. Belajarlah pada anak kecil yang kehilangan sandalnya karena terputus ketika bermain, memang ia akan berwajah masam sebab kecewa tapi ia dengan sigap memutuskan. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah bermain-main di halaman rumah masa lalu, semua orang pasti pernah singgah atau sekedar bertamu. Jika kita sadar dan paham betul apa artinya singgah dan bertamu maka secara otomatis kita bukanlah Tuan rumahnya. Kita hanyalah seseorang yang lelah dan membutuhkan tempat untuk beristirahat dari sebuah kepayahan. Singgah bukan berarti harus tinggal meski itu merupakan tempat yang nyaman. Belum tentu tempat yang nyaman itu selalu memberikan ketenangan. Kita tidak bisa merasa tenang apabila si Tuan rumah tidak memberikan izin untuk menginap atau sekedar bermalam. Bertamu juga ada batasannya, Tuan. Apakah kita bertamu pada rumah yang setiap waktu pintunya terbuka untuk disambangi atau justru kita bertamu pada rumah seseorang dengan pintu tertutup rapat namun dengan ramah membuka untuk mempersilahkan kita masuk atau memang kita sedang bertamu pada rumah yang seluruh isinya kericuhan? Jangan jadikan masa lalu sebuah rumah, namun jadikanlah masa lalu tempat kita bernaung dan beristirahat ketika kepayahan. Singgah boleh tapi jangan menetap. Rumah kita bukanlah masa lalu melainkan masa depan yang tidak satu orangpun tahu. Sebaik-baiknya kita belajar adalah belajar pada sebuah pengalaman karena guru terbaik adalah pengalaman itu sendiri. Memang benar-benar, tapi pertanyaannya, apakah kita sudah belajar dari masa lalu tersebut atau kita hanya terlalu asyik menghitung jumlah pengalaman yang kita miliki tanpa pernah sekalipun belajar darinya? Yogyakarta, 19 Desember 2016

Download The Free App

Download PicsArt app for free

Share